Thursday, January 25, 2007

KISAH RASUL


Dari gerbang masa di jazirah bumi yang tandus, dari gurun-gurun pasir yang sengit,
Berkata diri yang letih, lusuh, pada jiwa-jiwa yang tidur berserakan,
Sambil memanggul lonceng tanda kebangkitan, ia tersenyum, dan terus bicara,
Bukan cerita tentang kebohongan, tapi jawaban dari kebohongan.

Tidak dengan cemeti untuk bangunkan mereka, tidak pula dengan tamparan,
Namun hanya dengan bahasa rupanya, hati dan lidah.

Dari dingin malam yang menggigit tulang, dari panas siang yang menghujam kulit,
Terlihat jeritan peluh menyesakkan tubuh, kepala-kepala menjulurkan kedengkian,
Tapak-tapak kepedihan menjelma jadi wisata batin yang lugu serta jujur,
Tapi tidaklah dia hentikan senyum dan bicara, tidak pula berkeluh dan terisak.

Tentu bukanlah tanpa sebab semua terjadi,
Dan sebab cinta yang membawa dia ada diantara berhala-berhala pemujaan.

Dari waktu lampau yang mengiris hati, dari suatu kisah yang melantunkan kasih,
Dimana tegak sosok anggun tanpa kebencian, dengan gelas anggur penuh cinta,
Dan bangkitlah mereka yang tidur, mengisi lorong-lorong tabu tentang semesta,
Menopang singgasana alam dengan keyakinan akan lajunya angin, air, tanah.

Dengan siraman cahaya ada bayangan bagi akal,
Demi tegaknya alur cerita tentang tragedi zaman, saat kematian menjadi sahabat.

Kini berjalanlah mereka, dia beserta jiwa-jiwa yang dibangunkan,
Tertatih, perlahan, tertunduk, tapi bukan karena malu, bahkan penuh kepastian,
Menatap wajah alam adalah menyaksikan ketiadaan, wajah untuk teduhnya hati,
Dalam iring-iringan nyanyian jibril, saling bercinta, hidup tanpa kedengkian.




Jakarta, 13 Februari 2003
Pukul 21.33



Arie Pujianto, ketika aku mencoba memahamimu... ya Rasul

0 comments: