A.Sejarah Lahirnya Sekularisme
Dalam konteks historis, menurut Ernest Troeltsch kelahiran sekularisme harus dilihat dalam horizon sejarah feodalisme dan dominasi gereja pada abad pertengahan di Eropa.[1] Pada saat itu, struktur masyarakat didominasi oleh kelas aristocrat, kaum gereja, dan rakyat rendahan. Kaum bangsawan memegang peranan penting sebagai penguasa dan pemilik tanah. Kaum gereja memainkan fungsi dan pemegang otoritas religius bagi para penganutnya. Rakyat jelata memerankan diri sebagai penggarap tanah, serta “obyek yang terdominasi”.[2]
Lahirnya sekularisasi juga dilatar belakangi oleh penolakan terhadap dogma-dogma gereja yang cenderung memusuhi rasionalitas dan pengetahuan. Pemberangusan kaum rasionalis oleh gereja dengan mengatasnamakan pembasmian terhadap gerakan heretic ( bid’ah ) dikemudian hari justru mengakibatkan perubahan radikal struktur masyarakat abad pertengahan. Lebih dari itu, gerakan ini juga diikuti oleh perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek idealitas gereja. Gejala-gejala inilah yang oleh Henri Pirene disebut sebagai gejala yang mempercepat terjadinya proses sekularisasi. Senada dengan Henri Pirene, Troelsch menyatakan bahwa kombinasi antara ketidakpuasan terhadap dominasi gereja yang eksploitatif dan dogma-dogma gereja yang anti rasionalitas berujung pada sekularisasi.[3]
Dalam masyarakat abad pertengahan, gereja memiliki pengaruh dan peran sentral yang sangat penting. Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa sebelum abad ke-13, hanya pengurus tinggi gereja saja yang memiliki pendidikan, kultur, serta prestise tertinggi. Adapun pengurus gereja bawahan dan jemaat adalah orang-orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi dan akses yang leluasa untuk menuju kelas atas. Mereka hanyalah partisipan serta masyarakat yang termarginalkan. Disisi yang lain, hubungan antara kaum gereja dan kaum bangsawan, meminjam istilah Troeltsch, terjadi secara timbal balik dan tumpang tindih.[4] Pengurus gereja dan biara tinggi kebanyakan adalah para bangsawan dan kelas atas. Meskipun gereja membuka peluang mobilisasi kelas bawah menuju kelas atas, peluang ini sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada. Kenyataan ini semakin mengukuhkan dominasi dan hubungan feodalistik-eksklusif antara kelas aristocrat dan kaum gereja.
Sekitar abad ke-11, timbul kesadaran baru ditengah-tengah masyarakat kota. Gejala ini kemudian diikuti dengan serentetan protes dan perlawanan sosial menentang dominasi dan eksploitasi kaum gereja yang melibatkan diri dalam hubungan feodalistik dengan kaum bangsawan, eksploitasi atas nama kekuasan dan agama, serta sikap yang merendahkan rakyat jelata.
Protes dan gerakan anti gereja tidak hanya muncul diranah sosial, tapi juga merambah kawasan biara. Protes bermula dari biara Benedict, di Cluny yang kemudian dikenal dengan “ Reformasi Cluny “. Gerakan ini menentang praktek-praktek menyimpang para pendeta, moralitas serta arogansi kaum pendeta di biara. Pada tahun 1073 meletus sebuah peristiwa “ pembaharuan hildebrande “. Perlawanan ini dilatar belakangi oleh pemberontakan melawan kemapanan dan sikap eksploitatif kaum gereja. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menuntut terjadinya proses reformasi dan sekularisasi, yaitu pemisahan gereja dengan kekuasaan feodalistik.[5]
Diprancis selatan dan Italia utara terjadi pembantaian besar – besaran gerakan yang dianggap heretic oleh ngereja. Paus innocent III setelah seabad peristiwa ini, mengerahkan ribuan pasukan, mesiu dan pedang untuk membasmi gerakan-gerakan yang anti terhadap dogma gereja. Munculnya sekte heretic ini semakin mendorong otoritas gereja untuk bersikap keras bahkan memusuhi pihak-pihak yang ingin mencari pengetahuan atau penggagas pengetahuan rasional yang bertentangan dengan dogma geereja. Misalnya bagaimana St. Bernart yang sangat menentang Abelard dan pengutukan ide-ide Thomas Aquinas oleh sinode gereja Prancis dan Inggris.
Departemen Curia Roma, organ administrasi Paus sebagai penguasa tertinggi gereja katolik Roma, pada tahun 1616 menetapkan dekrit yang menyatakan bahwa tesis Heliosentric sebagai ajaran heretic. Dekrit itu juga menyatakan agar Galileo tidak lagi menganut dan membicarakan paham heliosentris.[6] Pada tahun 1663, badan penelitian gereja atau Holy office yang bertanggung jawab mempertahankan dan melindungi ortodoks dan dogma gereja memvonis Galileo sebagai kaum heretic, sekaligus menetapkan paham heliosentris sebagai paham yang bertentangan dengan isi Alkitab.[7]
Sebelumnya penggagas heliosentris (Copernicus),[8] pada tahun 1507, tatkala menyadari gagasannya akan mendapat perlawanan dari kubu geosentris gereja, maka dirinya melakukan eksplanasi gagasannya dengan cara yang sangat halus dan waspada. Bahkan, gagasan heliosentris yang kemudian dibukukan dalam karyanya berjudul DE Revolutions , baru diterbitkan 36 tahun kemudian. Pada tahun 1543, buku itu diterbitkan pada saat yang sama ia harus berhadapan dengan mahkamah Inkuisisi.
Nasib yang sama juga dialami oleh Giordano Bruno, bahkan ia mendapatkan perlakuan yang lebih keji karena mengajarkan pluralitas. Ia dikejar oleh mahkamah inkuisisi Italia. Bruno akhirnya melarikan diri dan bersembunyi diberbagai Negara Eropa. Namun akhirnya ia tertangkap di Venice, Italia dan dibakar hidup-hidup oleh mahkamah Inkuisisi.
Peristiwa-peristiwa ini, semakin mengkristalkan masyarakat Eropa pada abad ke15-16 untuk melakukan proses sekularisasi. Abad-abad itu disebut babak kelahiran baru (renaissance) atau babak pencerahan Eropa (Europan Enlightment). Dominasi kekuasaan dan dogma gereja berhasil diruntuhkan dan dipinggirkan dalam ranah privat. Ketegangan antara rasionalitas dan dogma heretik gereja berakhir dengan dipisahkannya otoritas (gereja) dari kawasan negara. Sekularisme semakin menemukan bentuknya pada abad 17, bahkan ia telah menempatkan dirinya sebagai dimensi yang sangat penting. Penemuan-penemuan serta kelahiran sains dan teknologi merupakan katalisator menuju privatisasi gereja. Pada awal abad 17, di Paris yang saat itu berpenduduk 300 ribu orang, diperkirakan ada sekitar 50 ribu etnis.[9] Pada abad ke-18, Eropa semakin sekular. Pada periode ini , Eropa dibasahi oleh semangat sekularisme, rasionalisme, dan indrustrialisasi yang kelak akan membnguan peradaban Eropa.
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa kelahiran sekularisme dilatarbelakangi oleh penolakan dominasi dan dogma gereja yang dianggap bertentangan dengan prinsip humanitas dan rasionalitas manusia. Semangat baru ini telah mendorong sejumlah teolog dan pemikir untuk melakukan interpretasi ulang terhadap ajaran-ajaran Bibel secara lebih radikal, demi proses sekularisasi. Dengan ungkapan lain, sekularisasi merupakan konsekuensi logis dari eksistensi dan kelangsungan dogma gereja.
[1] Roland Robertson, Sosiologi of Relegion, a.b. Achmad Fedyani Saifuddin MA, Agama Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, ( Jakarta : Rajawali press, 1988 ), hal. 135
[2] Syamsuddin Ramadhan, Majalah Islam Al Wa’ie, (
[3] Ibid., hal. 8
[4] Syamsuddin Ramadhan, Loc.Cit
[5] Jalal al Ansari, Introduction to The Sistem of Islam,a.b. Abu Faiz, Mengenal Sistem Islam dari A sampai Z, ( Bogor : Thariqul Izzah, 2004 ), hal. 8
[6] Syamsuddin Ramadhan, Op.cit., hal. 8
[7] Ibid
[8] Loc.cit
[9] Syamsuddin Ramadhan, Op.cit., hal. 9

0 comments:
Post a Comment